Modernisasi Pengolahan Sagu Hutan Lestari di Pulau Seram dan Buru: Dari Pangan Tradisional Papeda Menjadi Mie Sehat Bebas Gluten
MASOHI, KABAR RASA — Hutan sagu alami yang membentang luas di Pulau Seram, Pulau Buru, dan Halmahera merupakan cadangan karbohidrat raksasa milik masyarakat Maluku yang tumbuh secara ekologis tanpa memerlukan pupuk sintetis maupun pestisida. Untuk mengangkat martabat dan nilai ekonomi sagu di kalangan generasi muda, DPW Partai RASA Zona Maluku memfasilitasi pembangunan 8 Rumah Produksi Sagu Higienis di Kabupaten Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, dan Buru.
Dengan menggunakan mesin pemarut mekanis dan bak pengendapan berair bersih terfiltrasi, waktu pengolahan satu batang pohon sagu yang secara tradisional memakan waktu lima hari kini dapat diselesaikan hanya dalam empat jam dengan rendemen pati 35 persen lebih banyak.
"Pati sagu basah (tumang) kini kita olah lebih lanjut menjadi tepung sagu kering berstandar SNI, mie sagu instan sehat yang rendah indeks glikemik (sangat baik untuk penderita diabetes), serta beras analog sagu. Ini adalah bukti nyata bahwa kearifan pangan leluhur Maluku sangat relevan untuk menjawab krisis pangan modern," tutur Koordinator Pangan Lokal DPW Maluku di Masohi.
Kabar RASA • DPW Maluku
Menyajikan jurnalisme pergerakan rakyat dan aspirasi keadilan sosial di seluruh penjuru Indonesia.

